Tadi malem saya ditelpon oleh salah satu adek kelas SMA saya, yang membuat saya kaget adalah dia tiba-tiba bilang “ga tau…ga tau….yui bingung ditambah dengan suara yang serak-serak mengandung air mata”. Waduh….tambah bingung lagi nih soalnya saya ga tau asal-muasal dia tiba-tiba kaya gitu.
Seiring berjalannya obrolan, ternyata saya baru sadar kalo besok itu adalah pengumuman Ujian Nasional. ehmmm…UN nih tetap menjadi momok yang teramat menyeramkan bagi semua kelas tiga baik SMP maupun SMA. Bagaimanapun berprestasinya kita, jika kita tidak lulus ujian maka akan repot ke depannya. Selain harus menanggung malu ketika kita tidak lulus, kita juga akan sulit untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu jenjang universitas.
Lanjut ke cerita tadi malam. Yui, adik kelas yang menelpon semalam adalah salah satu murid yang berprestasi menurut saya dan Dia juga sudah mengantongi beberapa universitas papan atas termasuk universitas yang saya tempati sekarang yaitu Universitas Indonesia. Namun, dengan segudang prestasi dan pencapaian yang telah Dia dapat, Yui masih tetap khawatir atas pengumuman UN yang segera menghampiri.
Sebenarnya apa yang salah dengan UN ini sehingga begitu menakuti banyak orang? Saya kira karena negeri ini hanya terfokus pada hasil yang harus didapat para siswa, tanpa peduli bagaimana proses yang terjadi di dalamnya. Kita ambil contoh, ada seorang siswa yang kesehariannya kurang berprestasi, selalu membuat masalah, dan tak peduli terhadap apa yang guru mereka berikan. Oleh karena dia harus tetap lulus UN meskipun dia tak mengikuti segala proses yang ada, maka dia menghalalkan segala macam cara untuk bisa lulus termasuk membeli jawaban soal, mencontek, melihat jawaban teman, dan segala macam kecurangan lainnya.
Ketakutan tadi juga tidak hanya berlaku untuk para siswa saja, tetapi juga sama menakutkannya bagi para guru-guru pendidikan. Betapa tidak, kita sudah mendengar bahwa ada guru-guru yang mengorbankan idealisme demi kelulusan anak didiknya dan banyak disinyalir bahwa ada commando langsung yang dilakukan oleh Kepala Sekolahnya untuk mempertahankan kredibilitas sekolahnya.
Saya tidak melulu menyalahkan pemerintah atau pun para siswa yang ingin lulus tadi karena keduanya hanya berusaha apa yang mereka anggap terbaik bagi mereka. Namun, saya berharap ke depannya pemerintah akan bisa mampu membuat sistem yang lebih sesuai untuk karakteristik rakyat Indonesia dan juga bisa memberikan pendidikan moral bagi seluruh lapisan pendidikan.








